Monday, 29 April 2013

Salah Satu Cerpan ku


Di baca ya, maaf bersambung soalnya halam nya kebanyakan : )

KECUPAN TERAKHIR UNTUK BUNDA
         
Harum adalah seorang anak yang manja dengan ibunya. Ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu dalam kecelakaan lalu lintas. Ia tinggal bersama ibunya yang ia panggil bunda.
            Seperti biasa, ia pergi kuliah bersama 2 teman dekatnya, Andin dan Windy. Ia mengambil jurusan kedokteran. Harum sengaja mengambil jurusan kedokteran, karena dulu ayahnya adalah seorang dokter. Ia sangat menyayangi ayahnya. Ketika ayahnya meninggal, itu adalah saat-saat yang sulit baginya.
            Harum, Andin, dan Windy sering kumpul bersama, biasanya bercerita tentang film yang akan mereka tonton, cowok, sharing cerita yang menyenangkan dan menyedihkan. Mereka sering terlihat tertawa bersama. Bagi Harum, Andin dan Windy adalah pengobat hatinya yang kedua setelah bundanya.Bunda Harum tidak terlalu memanjakan harum sebelum suaminya meninggal. Tetapi sekarang, setelah suaminya meninggal, ia mencoba untuk menghibur hati Harum.
            Sekarang sang bunda berada di ruang tamu sedang menikmati teh hangat. Harum datang mendekat dan langsung berbaring di pangkuan bundanya.
“Bunda, apakah bunda pernah berfikir untuk menggantikan posisi ayah?” Harum bertanya dengan penuh penasaran.
Sang bunda tersenyum manis kepada Harum sambil membelai rambut Harum.
“Mengapa bunda harus melakukan itu sayang? Bunda sangat menyayangi ayahmu, sampai sekarang bunda tidak dapat melupakan kenangan kami bersama. Kami sangat bahagia waktu kami mendapatkan kamu.”
“Pokoknya Harum gak mau punya ayah baru.”
“Sudahlah, kita jangan membicarakan hal itu lagi.”
            Pagi ini begitu cerah, udara segar Harum hirup dengan senang hati. Hari ini ia sangat bersemangat karena hari ini akan diadakan ujian praktikum. Malam tadi ia sudah belajar dan mempersiapkan diri untuk hari ini. Sebelum masuk, di ruang kelas Harum, Andin, dan Windy mengetes kemampuan mereka dulu. Setelah masuk, mereka melakukan ujian dengan hati-hati dan pastinya pertama-tama mereka membaca doa. Seusainya, mereka sangat lega, tapi mereka tetap khawatir dengan nilai yang akan mereka dapt.
“Rum, gimana? Mudah gak tadi?” Andin bertanya dengan nada bahwa dia sudah tahu bahwa temannya itu merasa mudah dalam ujian tadi.
“Pendapatku itu susah.”
“Sudahlah, bilang aja mudah. Toh kamu mahasiswi paling pintar di antara teman-teman di kelas kita.” Windy menimpali.
Harum cuma tersenyum mendengar pernyataan temannya itu.
“Besok kita ujian tertuliskan?” Harum mengalihkan topik.
“Iya, besok kita ujian tertulis.” Windy menjawab.
            Mereka berjalan di sekitar kampus sebelum pulang. Ketika mereka sedang berjalan, Harum bertabrakan dengan seorang cowok, sehingga menyebabkan buku-buku Harum jatuh ke lantai, begitu juga dengan buku-buku cowok tersebut.
“Hei, kalo jalan hati-hati dong!”cowok itu berkata kasar kepada Harum.
“Apa? Yang nabrak itu kamu, mengapa kamu menyalahkan saya?”
“Kalo jalan pake mata dong.”cowok itu berkata lalu meninggalkan Harum.
“Dasar cowok gak tau diri! Siapa sih dia asalan marah aja.”
“Hem,cowok kayak gitu jangan diurusin Harum.”Andin mencoba membuat Harum sabar.
Tapi tanpa Harum sadari, bukunya telah dibawa oleh cowok tersebut dan buku tersebut adalah bahan untuk menghafal untuk ujian tertulis besok.
            Malam harinya, Harum mengemaskan bukunya dan ingin belajar. Ia mencari buku catatannya, tapi ia tidak menemukannya. Lalu, ia menelpon teman-temannya dan jam sudah menunjukkan jam 11.00 malam. Tapi, teman-temannya tidak ada yang menjawab karena temannya sudah tidur. Harum merasa sangat kebingungan. Dalam kebingungannya itu, ia merasa kantuk dan tertidur.
            Besoknya, ia cepat-cepat ingin pergi ke kampus.
“Harum, tidak sarapan dulu?”
“Tidak usah bunda, Harum sarapan di sana aja. Harum buru-buru nih, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
            Sesampai di kampus, Harum langsung meminjam catatan temannya, dan mencoba untuk menghafal. Tapi, kelas sudah masuk. Harum melaksanakan ujian tertulis tanpa persiapan sama sekali. Ia Cuma bisa mengingat sedikit dengan penjelasan-penjelasan dosennya. Seusai ujian, Harum dan teman-temannya mengobrol.
“Bagaimana bisa buku catatanmu hilang?”Andin bertanya heran, karena dia tahu temannya itu bukanlah orang yang ceroboh.
“Aku juga gak tahu. Aduh, hasil ujianku pasti jelek.”
Tiba-tiba seorang cowok bernama Arif mendekat. Yaitu yang menabrak Harum kemarin.
“Kamu Harum kan?”sambil menatap wajah Harum.
“Iya. Kok kamu tahu? Ooh, kamu cowok yang kemarin kan?”
“Nih, buku kamu kebawa.”Arif langsung meninggalkan Harum.
“Ha! Hei tunggu! Kamu tau gak, gara-gara kamu aku tu gak bisa ngisi ujianku dengan benar.”
“That is not my bussiness.”
“What? Kamu harus bertanggung jawab dong.”
“Kamu mau aku ngelakuin apa? Menyuap dosenmu supaya dia memberikanmu nilai tinggi.”
“You don’t have to do that. You just need to say sorry.”
“Say sorry to you? Forgeti it! I will never say sorry to a girl like you.”Arif meninggalkan Harum yang sedang menahan amarahnya.
Harum hanya menghela nafas menahan amarahnya.
            Malamnya di ruang tamu, Harum menoton TV dan berbicara sendiri. Ia masih kesal dengan sikap Arif. Kemudian bunda mendekati Harum.
“Harum, kamu kenapa?”
“Gak ada apa-apa bunda.”
“Bunda tau sekali dengan sikapmu. Ayolah ceritakan!”
“Nggak, Harum cuma kesel dengan cowok yang udah salah sama Harum, tapi gak mau minta maaf.”
“Harum, sesunguhnya memberi maaf lebih mulia dari meminta maaf.”
“Jadi, maksud bunda Harum harus memaafkan dia walaupun dia gak minta maaf sama Harum?”
“Jika pemberian maafmu itu ikhlas.”
“Bunda, Harum tu maunya dihibur. Tapi, bunda malah bikin Harum tambah kesel. Harum mau tidur, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaiku salam.”
            Hari di kampus terus berlanjut. Harum duduk di dalam kelas dengan muka cemberut.
“Rum,kamu kenapa sih?”Andin bertanya yang duduk di samping Harum.
“Iya, kayak kesambet setan aja.”Windy menimpali.
“Gak ada salahnya kan kalo aku ngebales?”Harum mulai bicara.
“Balas apaan? Balas surat?”Andin bertanya penasaran.
“Kalo bales surat, aku gak akan mikir segininya kali.”
“Lalu bales apa dong?”
“Jangan bilang kamu akan ngebales perbuatan cowok yang namanya Arif!”Windy mulai curiga.
“Oh, jadi cowok itu namanya Arif.”
“Aduh Rum! Cowok itu kan gak sengaja. Lagi pula dia udah ngembaliin bukumu kan.”
“Tapi gara-gara dia, nalai ulanganku jelek. Hati aku ni rasanya sakit banget. Rasanya mau aku cabik-cabik wajahnya itu.”
“Harum, try to control your emotion.”
“Harum, kalo kamu ngelakuin itu bakal timbul masalah baru.”Andin mencoba membuat Harum lebih tenang.
            Di garasi, Harum mencoba untuk mengeluarkan sepeda motornya. Tapi ada mobil yang menghalanginya. Tiba-tiba ada seorang cowok yang menghidupkan kunci mobil itu. Ternyata itu Arif.
“Oh, jadi ini mobil kamu. Markir mobil tu yang benar dong, jangan ngalangin jalan orang kayak gini.”
Hari ini mood Arif tidak begitu baik, jadi ia membentak Harum tanpa alasan.
“Dasar! Asal bentak aja! Emang aku punya salah apa sih?”
seorang cowok dari belakang berlari-lari memanggil Arif. Bayu, itu adalah teman Arif. Tapi, Arif tidak memperdulikan temannya itu dan langsung pergi dengan mobilnya.
“Em, maaf. Kayaknya temanku marah tanpa sebab sama kamu. Maaf ya, temanku sedang ada masalah.”
Cowok itu langsung pergi mengejar Arif.
            Sesampainya di rumah Arif, Arif langsung masuk dan berdiri di depan mama dan papanya yang sedang bicara. Dalam pembicaraan itu, terlihat mama Arif sedang menangis.
“Mama dan Papa gak serius kan?”
“Keputusan kami sudah bulat nak.”Mama Arif menjawab dengan nada sumbang.
“Papa gak akan menceraikan Mama kan?”
Papa Arif hanya menghela nafas panjang.
Arif yang berdiri berbalik arah dan pergi lagi. Temannya Bayu yang berada di luar mengikuti Arif dan masuk juga ke mobil Arif.
“Rif, kita mau ke mana?”
Tapi Arif tidak menjawab dan membawa mobilnya dengan sangat kencang.
“Rif, jangan laju-laju! Aku gak mau mati sekarang, aku masih mau nikah.”
Arif tidak memperdulikan temannya. Sampailah ia mengeram mendadak  dan berhenti di depan kampusnya sendiri.
“Aku gak mau orang tuaku cerai”
“Iya, aku tau perasaan kamu Rif. Tapi jangan dibawa emosi Rif.”
“Aku gak mau orang tua ku cerai. Aku gak mau orang tuaku cerai!”Arif mengucapkan kalimat terakhir dengan berteriak.
            Keesokan harinya. Siang ini sangat panas. Sebelum pulang, Harum pergi ke toko buku dengan dengan jalan kaki karena toko buku dekat dengan kampus. Ketika berjalan, ia melihat di sebrang jalan Arif yang sedag berjalan.
“Tu dia si arogan.”
Harum menyebrangi jalan dan berlari ke arah Arif.
“Hei! Arif!”
Langkah Harum terhenti ketika melihat Arif jatuh ke tanah tanpa sadarkan diri. Harum langsung berlari dan mencoba membangunkan Arif. Tapi Arif tidak sadar. Lalu Harum membawa Arif ke rumah sakit.
            Di rumah sakit, Harum mencoba untuk mencari HP Arif untuk menghubungi orang tuanya. Tapi, Arif langsung memegang tangan Harum yang sedang memegang Hpnya.
“Tolong jangan hubungi orang tuaku, please!”
“A? I . . .Iya.”
            Sekitar beberapa menit Arif diperiksa,lalu dokter keluar dari kamar di mana Arif di periksa.
“Dok, bagaimana dengan teman saya?”
“Dia cuma pingsan biasa. Dia terlalu letih baik fisik maupun otak. Jadi dia seharusnya banyak istirahat dan jangan banyak berpikir.
“Iya Dok, terima kasih.”
Harum masuk ke kamar Arif dan duduk di kursi yang ada di samping pasien.
“Apa sih yang dipikirkan cowok kayak dia? Kalo soal cewek gak mungkin. Kayaknya dia bukan tipe kayak gitu.”
Tidak lama kemudian Arif siuman.
“Oh, udah sadar?”
Arif mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya, tapi Harum langsung melarangnya
“Dokter bilang kamu terlalu capek, stress. Jadi harus istirahat banyak, jangan terlalu banyak mikir.”
Arif sama sekali tidak memperdulikan Harum. Pikirannya melayang,sambil memandang langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna putih kehijau-hijauan. Harum menjadi jengkel dengan sikap Arif.
“Arif, ngomong apa kek situ. Makasih kek, maaf kek.”
“Makasih? Maaf? Emang kenapa aku harus minta maaf?”
“Kan kamu udah salah ngambil buku aku waktu itu.”
“I’ve told you, I will never say sorry.”
“Kalo gak mau bilang minta maaf, bilang makasih aja.”
“Makasih? Untuk apa?”
“Aku kan udah nolongin kamu.”
“Siapa yang mau dibantu. Udah deh, jangan banyak omong! Otak aku ni sumpek tau. Kamu juga kan yang bilang jangan banyak mikir. Mendingan kamu pergi aja deh. Lagipula, aku gak butuh kamu di sini lagi.”
Harum langsung keluar dari kamar yang berbau obat itu walaupun di luar masih tercium bau obat. Harum keluar dengan muka cemberut. Harum sangat marah dengan perlakuan Arif tadi dan ia sangat kecewa telah menolong Arif.

Bersambung ..........
By : Uswatun Hasanah

Tuesday, 26 February 2013

Fakta Ilmiah Bersyukur


Fakta Ilmiah Bersyukur
Dalam sebuah studi yang dilakukan Dr Blaire dan Rita Justice dari Universitas Texas, mereka menemukan bersyukur ternyata memberi manfaat bagi kesehatan psikologis dan fisik.
Studi lain yang dilakukan oleh Robert A. Emmons dari Universitas of California dan rekannya Mike McCullough dari Universitas Miami, secara acak meminta orang untuk menjalani salah satu dari tiga tugas, yaitu menulis jurnal singkat.
Satu kelompok harus menjelaskan lima hal yang mereka syukuri setiap hari. Kelompok kedua menulis lima masalah yang mereka alami dan kelompok netral yang diminta menulis lima hal yang memengaruhi mereka, terlepas dari hal yang negatif atau positif.
Sepuluh minggu kemudian, peserta dalam kelompok yang selalu bersyukur merasa lebih baik mengenai kehidupan mereka. Sebanyak 25 persen mereka juga merasa bahagia daripada mereka yang selalu mengeluh. Orang yang menulis jurnal ‘bersyukur’ juga melaporkan mengalami keluhan kesehatan lebih sedikit daripada rata-rata kelompok lain yaitu 1,5 jam.
Mereka yang bersyukur juga mampu memberi dukungan emosional kepada orang lain yang mengalami masalah. Rasa syukur secara teknis membuat mereka termotivasi sebagai seorang yang pro-sosial.
Pada studi lainnya, orang dewasa yang memiliki cacat bawaan sindrom pasca polio (PPS) yang menuliskan rasa syukur mereka setiap hari memiliki waktu tidur lebih berkualitas dan merasa lebih segar saat bangun.
Kelompok yang bersyukur juga dilaporkan lebih puas dengan kehidupan mereka secara keseluruhan, optimis tentang masa depan, dan jauh lebih terhubung dengan orang lain dibandingkan kelompok kontrol. “Orang yang bersyukur tampaknya merasa lebih bahagia daripada kelompok kontrol,” kata peneliti seperti dikutip dari Huffington Post. 
Untuk itu, peneliti menyarankan untuk menuliskan rasa syukur dan perasaan bahagia yang dialami setiap hari. Ucapkan terimakasih kepada pasangan, anak, teman dan keluarga untuk mempertahankan kesehatan dan kebahagiaan.
Bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan atas segala karunia-Nya merupakan komponen kunci untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan. Kemampuan tiap orang untuk bersyukur dapat dikembangkan dari waktu ke waktu. Seperti kemampuan lainnya, kemampuan untuk selalu bersyukur berkembang jika dilatih dan dibiasakan terus menerus.
Sebuah cara yang dapat Anda gunakan untuk meningkatkan rasa syukur adalah menuliskan atau mengingat beberapa hal yang Anda syukuri setiap hari. Jurnal rasa syukur ini merupakan cara yang baik untuk memulai rasa syukur yang lebih besar dalam hidup Anda. Contoh hal kecil namun patut disyukuri adalah menikmati cuaca yang baik sehingga bisa jalan-jalan atau beraktifitas dengan lancar, tidak kesulitan mendapatkan makanan dan minuman, tidak kesulitan bernafas dan lain sebagainya. Jika terus dikumpulkan, suatu saat kita akan takjub karena demikian besar karunia Sang Pencipta yang telah kita terima dan nikmati.
Keyakinan dan bekerja sebaik mungkin merupakan bentuk rasa syukur atas karunia Tuhan YME. Selain itu, wujudkan rasa syukur dengan berdoa dan beribadah. Rasa syukur juga dapat dilakukan dengan berbagi kepada orang lain, berupa ilmu, harta, kemampuan dan lain sebagainya.
Upayakan untuk menghiasi pikiran dan sikap dengan rasa syukur kapanpun dan dimanapun. Hal itu dapat mempengaruhi sikap mental menjadi lebih positif. Dengan begitu Anda perlahan-lahan mulai menarik hal-hal positif ke dalam kehidupan Anda.
Di balik segala sesuatu yang kita keluhkan pasti ada satu hal yang dapat kita syukuri. Bersyukurlah karena pada akhirnya Anda akan dapat melihat lebih banyak hal positif di dalam diri Anda. Beberapa kalimat inspiratif yang saya kutip dari sebuah media online berikut ini mudah-mudahan dapat senantiasa mengingatkan kita semua untuk selalu bersyukur.
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar – Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu – Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang pacar, suami atau isterimu – Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat dipanggil Tuhan.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu – Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang membersihkan atau menyapu lantai – Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh – Ingatlah akan sesorang yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu – Ingatlah akan para pengangguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain – Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu – Pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini. Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah dengan baik dan penuh rasa syukur.

Bersyukurlah Wahai Manusia


Kewajiban Bersyukur :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah: 172).
“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al Ankabut : 17)
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152)
“Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar: 66)
Cara Bersyukur :
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah.` Katakanlah : `Segala puji bagi Allah`; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. ” (QS Luqman : 25)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar : 1-2)
“Bahwasanya Nabi SAW, apabila datang kepadanya suatu perkara yang menggembirakan atau mendapatkan kabar gembira, beliau langsung bersyukur sujud, bersyukur kepada Allah SWT.” (HR Abu Dawud)
Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam beribadah sampai beliau bengkak-bengkak, Sayidah Aisyah istrinya berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau beribadah sampai seperti itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah engkau suka aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?”
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah berceritera, “Bahwasanya salah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah mengucapkan, `Ya Rabbi, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika [ya Tuhanku, kepunyaan-Mulah segala puji sebagaimana yang layak bagi keluruhan-Mulah dan keagungan-Mu]`. Maka, ucapan ini menjadikan kedua malaikat bingung sehingga mereka tidak tahu bagaimana yang harus mereka tulis. Maka naiklah keduanya kepada Allah, lalu berkata, `Ya Tuhan kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan suatu perkataan yang kami tidak tahu bagaimana kami harus menulisnya.` Allah bertanya – padahal Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya, `Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku?` Mereka menjawab,`Ya Tuhan kami, sesungguhnya dia mengucapkan, Lakal hamdu kamaa yanbaghii li jalaali wajhika wa azhiimi sulthaanika.` Kemudian Allah berfirman kepada mereka, `Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku itu hingga dia bertemu Aku, maka Aku yang akan membalasnya” .(HR Ibnu Majjah)
“Siapa yang tidak berterimakasi kepada manusia, berarti tidak berterimakasih kepada Allah” (HR Abu Daud)
Syaikh Ibnu Athaillah menuturkan “Seseorang mukmin itu suka menyibukkan diri menyanjung Allah, sehingga tidak sempat untuk memuji dirinya sendiri, dan ia sibuk menunaikan kewajiban kepada Allah sehingga ia lupa akan porsi untuk dirinya sendiri”. (Al-Hikam)
Syaikh Ibnu Athaillah menuturkan: “Siapa yang tidak mengetahui begitu berharganya nikmat, ketika kenikmatan itu bersertanya, maka barulah ia mengetahui betapa berartinya nikmat itu setelah nikmat itu pergi meninggalkannya.” (Al-Hikam)
Kebanyakan Manusia Tidak Bersyukur :
“Iblis menjawab: Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al A’raf 16-17)
“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya.” (QS. Yunus: 60).
“Katakanlah: ‘Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencara di darat dan di laut yang kamu berdo’a kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengetakan): ‘Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur’. Katakanlah: ‘Allah menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya.” (QS. Al An’am: 63-64).
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Al-Fathir: 3)
“Dan ketika Kami (Allah) memberikan nikmat kepada manusia, ia memalingkan muka dan bersikap angkuh, dan ketika ia ditimpa keburukan ia berputus asa.” (QS. Al Isra’ : 83)
“Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)